<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>tetap semangat!</title>
	<atom:link href="http://akarrumputliar.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akarrumputliar.wordpress.com</link>
	<description>kata yang berlawanan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 03 May 2008 10:40:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='akarrumputliar.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>tetap semangat!</title>
		<link>http://akarrumputliar.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://akarrumputliar.wordpress.com/osd.xml" title="tetap semangat!" />
	<atom:link rel='hub' href='http://akarrumputliar.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/05/03/13/</link>
		<comments>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/05/03/13/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 May 2008 10:40:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herilatief</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarrumputliar.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Salam Dari Amsterdam Seorang kawan menulis surat pada saya, apakah saya bisa cerita tentang kehidupan di Belanda. Mulanya saya bingung juga, apa yang saya mau ceritakan? Apakah boleh menulis tentang konflik antara kaum pendatang dan Inlander, komplit dengan bumbu agamanya? Kawan saya bilang soal konflik agama tak perlu diceritakan, katanya dunia sudah muak dengan segala [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=13&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Salam Dari Amsterdam</strong></p>
<p>Seorang kawan menulis surat pada saya, apakah saya bisa cerita tentang kehidupan di Belanda. Mulanya saya bingung juga, apa yang saya mau ceritakan? Apakah boleh menulis tentang konflik antara kaum pendatang dan Inlander, komplit dengan bumbu agamanya?</p>
<p>Kawan saya bilang soal konflik agama tak perlu diceritakan, katanya dunia sudah muak dengan segala berita provokasi hasil konflik beragama. Saya jadi maklumlah, di Eropa yang lagi hot isunya adalah soal anti agama &#8220;import”, sedangkan jelas terlihat bahwa praktik pertentangan klas di dalam masyarakat maju masih tetap saja terjadi, walau pun secara ekonomi dan sosial Barat telah berhasil memakmurkan sebagian besar rakyatnya, tapi rupanya masih ada yang miskin alias tiarap ekonominya, sudah tentu kemiskinannya lain lagi sifatnya jika dibandingkan dengan situasi kemiskinan di negeri dunia ketiga seperti Indonesia, tidak adil membandingkannya. Kita tahu bahwa antrian minyak tanah tak akan terjadi di Barat yang cara memasaknya memakai kompor gas atau kompor listrik.</p>
<p>Di Belanda kasus “kemiskinan” simbolnya adalah pembagian sembako via pos-pos sosial, namanya Voedselbank, misalnya di daerah Amsterdam Zuidoost. Menurut statistiknya 83% dari para penerima bantuan ini terjerat urusan hutang berat, sehingga bantuan tsb sangat diperlukan. Maka bermunculanlah Voedselbank di seluruh negeri Belanda. Saya tadinya tidak percaya bahwa di negeri Belanda juga ada antrian bantuan sembako, tapi setelah publikasinya muncul di media, saya pun maklum, tampaknya musti ada perbedaan klas yang tajam dalam masyarakat di suatu negara industri, untuk menjaga agar supaya tetap ada balans antara sangkaya dan simiskin, semua tentunya demi keuntungan sistim Kapitalisme.</p>
<p>Belanda terkenal dengan watak klas pedagangnya, Kruideniermentaliteit, sehingga tidak heranlah licinnya roda ekonomi sejak jaman baheula tetap berjalan sampai saat ini sesuai dengan semangat jiwa VOC, jaman dulu mereka berlayar jauh dari Amsterdam ke kepulauwan Nusantara demi mencari rempah-rempah, dengan mendapat keuntungan gila-gilaan, sebesar 2500 persen! sekarang hanya dengan mengirimkan Unilever sudah bisa mengeruk keuntungan besar dari jauh tanpa musti mengeluarkan tembakan sebutir peluru&#8230;</p>
<p>Ruang hidup orang asing di Amsterdam sangat asyik dan penuh toleransi, ini mungkin karena Amsterdam terkenal sebagai kota kaum Sosialis, Liberal (pedagang) dan Seniman. Dalam dunia musik Belanda dikenal nama Andre Hazes (almarhum), seorang penyanyi rakyat, yang dicintai kawan dan lawan ini memang punya suara merdu, patungnya sang maestro ada di pasar Albert Cuyp, bergaya lagi nyanyi duduk di korsi bar. Asli Amsterdammer, bir dan Cafe sebagai gaya hidup.</p>
<p>Jangan lupa juga, ide kebebasan dalam arti kata kebebasan dalam memilih cara hidup sangat dihormati di negeri kincir angin ini, bahkan di depan gereja Westerkerk ada sebuah “Homo Monumen”, marmer berbentuk segitiga, contoh lainnya di depan gereja tua Oudekerk di Zeedijk ada kamar-kamar buat majang para pekerja sex. Di gereja tua ini pernah diadakan pameran lukisan dari pelukis Lekra, Basuki Resobowo.</p>
<p>Amsterdam pernah diberi judul: kota Sodom dan Gomorrah yang punya serikat pekerja pelacuran.Tak heranlah, jutaan orang setiap tahun mampir ke Amsterdam untuk sekedar buang tai macan, atau stoned di coffeshop. Vrijheid = Blijheid. Kebebasan = kebahagiaan, demikian kata orang sana.</p>
<p>Resiko dari kebebasan itu juga minta korban, misalnya terjadi pemukulan di jalanan terhadap kaum gay, pembakaran sekolah islam pada saat terjadinya pembunuhan terhadap sineas Theo van Gogh, pertentangan antar ras semakin keras seperti batu cadas. Di kalangan anak mudanya terjadi situasi “saling mengawasi”, siap sedia, karena pembauran itu di lapangan ternyata sangat sulit dilaksanakan, praktiknya adalah masih adanya cap orang asing sebagai warganegara klas kambing dan superioritas penduduk asli, padahal banyak orang asing yang sudah ikut dalam sistim secara seratus persen, misalnya ada yang jadi pejabat di departemen kehakiman, tapi tetap saja dianggap loyalitasnya ganda, sebab punya 2 kewarganegaraan. Ini juga perkara aneh, suatu kasus politik yang punya pejabat publik dengan 2 macam paspor.</p>
<p>Bingung kan? Itu bisa terjadi di Belanda. Sempat diributkan juga kasus tsb oleh partai ekstrim kanan, tapi tak mempengaruhi situasi yang ada, paspor ganda tak jadi soal selama bisa kerja optimal buat kepentingan Belanda. Pilihan pragmatis yang luar biasa sekali itu akibat dari persaingan dalam mencari dukungan politik, artinya kepentingan Belanda terhadap para pendatang sangat besar, para pendatang juga sebagai salah satu faktor pendukung kejayaan politik dan ekonomi Belanda di Eropa dan dunia.</p>
<p>Orang Belanda juga punya sifat sosial yang besar terhadap binatang, dibuktikan dengan adanya partai binatang, dan punya wakil di parlemen. Hati-hati jangan sembarangan nimpuk anjing atau nendang kucing di Belanda, bisa dilaporkan ke polisi dan kena denda. Jadi jangan marah-marah jika lagi santai jalan-jalan di trotoar kota Amsterdam lalu sepatu kita secara tak sengaja menginjak tai anjing. Sepertinya kita tak sah datang ke Belanda jika sepatu kita belum menginjak tai anjing di trotoar.</p>
<p>Perbedaan dasar orang kita dengan wong Londo itu bisa saja dilihat dari cara orang membersihkan dirinya setelah buang air besar, si Londo cukup dengan 5 lembar kertas cebok, si orang asing musti punya sebotol air buat cebok di dalam wc nya. Yang mana lebih ngirit, siapa yang hipokrit, yang mana lebih efisien dan keren? Jawabnya adalah suka-suka lo aja deh, yang penting bersih.</p>
<p>Heri Latief</p>
<p>herilatief@yahoo.com<br />
Amsterdam, 4 Maret 2008</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akarrumputliar.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akarrumputliar.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarrumputliar.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarrumputliar.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarrumputliar.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarrumputliar.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarrumputliar.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarrumputliar.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarrumputliar.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarrumputliar.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarrumputliar.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarrumputliar.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarrumputliar.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarrumputliar.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarrumputliar.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarrumputliar.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=13&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/05/03/13/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/adf33e665206acf968550ed92eebad77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herilatief</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/29/12/</link>
		<comments>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/29/12/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 07:29:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herilatief</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarrumputliar.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Kanal Demokrasi Politik Global Kanal-kanal di Amsterdam terkenal sebagai atraksi turis, kapal-kapal turis mundar mandir melayari kanal tua antik kebanggan kotanya VOC. Di sepanjang kanal yang terawat bersih itu tak ada orang iseng yang nongkrong buang air besar, yang kita lihat adalah jejeran gedung-gedung bangunan kuno di pinggir jalan. Di sepanjang kanal juga ada kapal-kapal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=12&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong><span>Kanal Demokrasi Politik Global</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kanal-kanal di Amsterdam terkenal sebagai atraksi turis, kapal-kapal turis mundar mandir melayari kanal tua antik kebanggan kotanya VOC. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di sepanjang kanal yang terawat bersih itu tak ada orang iseng yang nongkrong buang air besar, yang kita lihat adalah jejeran gedung-gedung bangunan kuno di pinggir jalan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di sepanjang kanal juga ada kapal-kapal tua yang dijadikan tempat tinggal, dan rumah-rumah permanen di atas air. Aura kota di atas air memang jadi ciri khas negeri Belanda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jika tembok batu disepanjang kanal-kanal itu bisa cerita tentu banyak sekali kisah tentang manusia yang melayari kanalnya, dari zaman ke zaman, kanal selalu setia dilayari kapal-kapal.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Seperti sejarah di zaman VOC, dulu para pelaut pergi jauh melayari samudra untuk mencari nasib baik, dalam petualangan hidup beraroma dagang dengan resiko dihadang angin topan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Semangat melawan angin topan itu dibuktikan bangsa Belanda dengan kerja keras membangun tanggul-tanggul penahan ombak yang berlapis-lapis secara “polder sistem”, suatu cara menanggulangi banjir yang disebut juga “bendungan di dalam bendungan”, suatu sifat pertahanan yang saling melindungi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kincir angin sebagai simbol Belanda untuk menguras laut jadi daratan, kecerdikan ilmu manusia melawan alam, jadi ilmu keturunan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tapi ilmu turun temurun itu pada saat ini menghadapi suatu cobaan, yang bukan sembarang ujian, ini adalah sebuah test terhadap semangat demokrasi Barat, apakah di zaman globalisasi ekonomi ini peranan para pendatang dalam bidang politik dianggap sebagai ancaman?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ancaman buat siapa? Karena saya lihat sendiri bahwa kaum pendatang ikut menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk kesejahteraan dan kemajuan lingkungan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tentu saja ada terjadi pula di sana- sini ekses negatif dari pergesekan antar kultur, itu konsekwensi logis dari politik Belanda zaman tahun 60an yang menciptakan ide “gast arbeider” (pekerja tamu).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pekerja tamu sebagai alat produksi dari mesin kapitalisme itu rupanya bukan sekedar jadi buruh kasar saja, mereka berkembang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pada mulanya orang Marokko dan Turki datang ke Belanda untuk bekerja di sektor perburuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kedua bangsa ini membawa juga segala macam kebiasaan hidupnya, mulai dari bumbu masak sampai agamanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Setelah 40 tahun lebih bermukim dan bekerja di Belanda, kaum pendatang itu menjelma jadi suatu kelompok masyarakat yang kompak dan kuat dalam solidaritas sosial dan ekonomi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Maka muncullah para aktifis dan intelektual muda dari generasi kedua kaum pendatang, yang sukses memobilisasi massa di lingkungan tempat tinggalnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Umumnya mereka aktif di “buurt huis” (sejenis karang taruna). Terutama sejak munculnya “getto” di daerah-daerah yang banyak ditempati oleh orang asing.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>10 tahun yang lalu para aktifis muda dari kaum pendatangi itu membangun jaringan politiknya dengan ketekunan yang luar biasa, sekarang mereka memetik hasilnya, ada yang jadi sekertaris mentri justisi (keturunan Turki dan masih warga negara Turki).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“</span>Als je voor een dubbeltje geboren bent, kan je wel degelijk een kwartje worden”, terjemahan bebasnya: “jika dilahirkan miskin, kerja keraslah untuk merubah keadaan”. Ini kata-kata dari Tofik Dibi, anggauta partai Groenlinks yang berhaluan kiri, ia termasuk anggauta parlemen termuda, lahir di Vlissingen (Belanda), 19 november 1980.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>Tofik dari generasi kedua kaum pendatang, berasal dari Marokko. Aktifis muda yang penampilannya “cool”. </span>Tercatat sebagai mahasiswa tingkat 3 jurusan media dan kultur di Universiteit van Amsterdam. Ia juga mempropagandakan gerakan anti rasisme dengan semboyan: &#8220;Allemaal Anders Allemaal Gelijk”, semuanya tak sama, tapi haknya sama.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Apakah perjuangan para aktifis persamaan hak-hak kemanusiaan <span>itu bisa dipahami oleh semua lapisan masyarakat di negeri kincir angin sebagai alat untuk melawan gerakan Neo Nazi?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Apakah kincir angin itu masih berputar? Searah? Atau arahnya bisa diatur oleh “tangan-tangan yang tak kelihatan” yang punya senjata rahasia politik? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Seperti kita semua tahu, bahwa sekarang ada isu politik berbau konflik agama. Tuntutan dari kelompok kanan yang penganut garis keras, membuat semangat hidup jadi beku, pergaulan lingkungan jadi dingin, kaku. Apakah ini yang disebut jurus “menabur angin menuai badai?”.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Mungkinkah kegelisahannya konflik politik tersebut akibat kelakuan manusia yang serakah? Yang tak mau menghitung kerugian psikologis akibat pertentangan ide-ide yang ironis?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di negeri keju pembuat kelom kayu ini orang sudah biasa menghadapi amuknya badai yang paling tragis, sejarah manusia tidak lepas dari riwayat perang, dan orang Belanda tahu juga apa itu yang namanya sakit hati akibat perang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pengalaman bangsa Belanda yang dijajah Jerman selama 5 tahun itu telah membekas sampai ke tulang sumsum bangsa Belanda. Kekejaman perang dunia kedua diputar di televisi berulang kali, di setiap tahun menu filmnya sama, dan harapannya perang dunia kedua sebagai perang terakhir di Eropa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Selama puluhan tahun hidup di masa damai ini Eropa Barat berkembang secara pesat, yang pada akhirnya punya persatuan negara-negara Eropa, kita kenal merknya EU.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>EU sebagai kumpulan nama negera di Eropa yang berbasis demokrasi, tapi sampai saat ini Turki tak bisa masuk jadi anggauta EU, dengan alasan hak-hak asasi manusia di Turki belum mencapai seperti standar di Eropa. Lalu yang namanya hak-hak asasi manusia cara Eropa itu apa? Jika masih banyak kasus rasisme yang membentang di seluruh negara EU. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Demokrasi yang dicita-citakan dengan perjuangan keras melawan ancaman fasisme rezim Hitler itu ternyata sekarang jadi mentah lagi persoalannya, lalu ada gerakan anti hak asasi manusia, disahkan oleh peraturan “kebebasan mengeluarkan pendapat tanpa sekat”.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya jadi saksi dari beberapa kejadian paraktik rasisme yang akut di dalam pergaulan masyarakat, yang rupanya sekarang lagi stress berat akibat resesi ekonomi dunia dan provokasi para polititikus pemuja kebebasan berbicara di media.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya mengalami sendiri jadi bulan-bulanan digertak oleh orang yang berfikiran model Skin Head, gerombolan geng kepala botak terkenal sadis (pengikut ajaran Neo Nazi). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Selama lebih dari seperempat abad tinggal di Barat, saya jadi makin tau apa arti sebenarnya kata diskriminasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tapi saya tetap semangat membela hak-hak asasi manusia yang universil sifatnya. Karena kekerasan bukanlah jalan yang aman untuk menyelesaikan persoalan tentang pergesekan antar kultur di negeri Belanda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Yang penting, percaya pada manusia sebagai makhluk yang berotak dan punya rasa kemanusiaan. Kita musti banyak berdialog dalam soal perbedaan kultur.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sebagai contoh, patutlah dicatat tentang kasus orang yang lari dari daerah perang (pencari suaka), dan publikasi besar-besaran “generale pardon” untuk 26 ribu pencari suaka di Belanda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Gerakan “generale pardon” berperan besar dalam membangun solidaritas kemanusiaan di Belanda, salah seorang aktifisnya bernama Marion Bloem, penulis terkenal, yang kebetulan berdarah Indo.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Satu dunia buat semua orang? Apakah ini masih boleh dianggap sebagai pemikiran bebas atau hanya hayalan belaka?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Heri Latief</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><a href="mailto:herilatief@yahoo.com">herilatief@yahoo.com</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Amsterdam, 22 april 2008</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akarrumputliar.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akarrumputliar.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarrumputliar.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarrumputliar.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarrumputliar.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarrumputliar.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarrumputliar.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarrumputliar.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarrumputliar.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarrumputliar.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarrumputliar.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarrumputliar.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarrumputliar.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarrumputliar.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarrumputliar.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarrumputliar.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=12&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/29/12/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/adf33e665206acf968550ed92eebad77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herilatief</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/10/</link>
		<comments>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/10/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 21:15:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herilatief</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/10/</guid>
		<description><![CDATA[Politik Lumpur Musim Intrik Musim semi di Eropa sudah dimulai sejak tanggal 21 Maret yang lalu, tapi salju masih turun dari langit melayang terbang bagai kapas putih beku, apa ini juga suatu tanda perubahan cuaca? Suhu politik dunia juga selalu meriang, antara panas dan dingin. Perang dingin antara blok Barat dan Timur sudah selesai katanya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=10&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong><span>Politik Lumpur Musim Intrik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Musim semi di Eropa sudah dimulai sejak tanggal 21 Maret yang lalu, tapi salju masih turun <span> </span>dari langit melayang terbang bagai kapas putih beku, apa ini juga suatu tanda perubahan cuaca? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Suhu politik dunia juga selalu meriang, antara panas dan dingin. Perang dingin antara blok Barat dan Timur sudah selesai katanya, yang sekarang lagi hot adalah perang bisnis akibat kepentingan modal globalis. Antara modal model klasik (dari Barat) dan pemain baru seperti India dan China.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bisa kita lihat jelas via simbol dari dunia politik bahwa ada kepentingan besar dari “kapital-finansial” Eropa ke negeri China, khususnya buat Belanda, misalnya bisa dilihat dari tema acara di taman bunga Keukenhof, tahun ini bercorak “China”, yang telah diresmikan oleh putra mahkota kerajaan Belanda. Ada susunan bunga tulip berbentuk naga raksasa, sebagai lambang dari kekuatan ekonomi China.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pentingnya umbul-umbul politik dagang sudah jadi patokan umum dalam tata cara bergaul di dunia bisnis globalis. Kepentingan menghalalkan segala cara. Apalagi jika melihat gaya politik Indonesia, yang jauh dari tempat tinggal saya ini, seperti nonton film episode politik opera sabun. Salah satu contoh yang masih aktual sampai saat ini adalah masalah lumpur panas di desa Porong, Sidoardjo. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dengan segala macam cara, diarahkanlah agar supaya skenarionya berpihak pada pemilik modal dan membebankan biaya kerusakan lingkungan alam pada negara. Kita baca di media cetak sudah ada komentar dari intelektual tak punya hati nurani, yang berpihak pada kemauan pemodal. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Maka bicaralah sang ahli merekonstruksi bukti-bukti nyata, tapi kita semua mustinya sudah tahu secara logika, bahwa lumpur panas itu muncrat keluar akibat tanahnya di bor dalam rangka mencari minyak bumi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jadi dongeng bencana alam itu dikarang dari hasil mengutak-atik dunia gaib bin khayalan, jadi sejenis “dongeng yang dilogiskan”. Ini adalah dosa berat politik yang dihalalkan uang sogokan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Apakah ini dosa turunan? Keturunan Orba sampai hari ini masih berkuasa. Politik hanya sebagai alat dari kekuasaan modal dan senjata. Rakyat digiring ke kandang “Reformasi”, lalu diberi sejenis permen <span> </span>manis bergula sintetis, yang efeknya membius pemikiran kritis, dan yang paling celaka “korlapnya gerakan 98” banyak yang nongkrong sembari bengong di dalam kendaraan politik dagang sapi ala Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dalam keadaan kheos berantakan itu kita bisa jadi bingung jika tak punya pedoman dalam melawan ide pembodohan dari para makelar politik, yang memang kerjanya cuma mau ambil untung dalam situasi sulit. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Menghadapi para agen-agen modal asing yang rakus itu kita harus tegas dan berani memerangi budaya korupsi secara sejati. Bukan dengan cara tebang pilih dan negosiasi setengah hati, yang akhirnya makan nasi basi. Dirayu uang sogokan bikin orang labil jadi debil dan tengil, lalu dipopulerkanlah model korupsi berjamaah?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Apakah model ekonomi yang diajarkan oleh Amerika kepada muridnya (mafia Berkeley) hanya menghasilkan turunan yang seperti meniru kelakuan si rajatega? Menggarong habis-habisan isi kekayaan alam Indonesia dan memperkosa hak asasi manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Setelah 32 tahun mendukung rezim Orba maka jaringan mafia Berkeley sudah mengakar terlalu dalam, membelit di jaringan birokrasi, dan menyuburkan budaya korupsi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Lemahnya aparat pemerintah mengawasi pundi-pundi negara itu adalah cermin dari kegagalan total dalam suatu pemerintahan, tak bisa menangkap tikus berpesta pora di lumbung padi, tak mampu menepati seribu janji bulan madu Pemilu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Janganlah pernah berhenti dalam membereskan yang salah, semangat harus tetap dijaga, supaya jangan lagi bencana politik terjadi. Tragedi Trisakti atau hura-hura politik berdarah lengsernya jendral Soeharto sudah berumur hampir 10 tahun, tapi banyak perkara yang tak bisa diselesaikan sampai hari ini, terlalu banyak ranjau politik dipasang oleh para pengikut kerajaan Cendana, terlalu banyak penjilat baru bermunculan untuk menambah barisan para pengkhianat bangsa pemuja uang setan. Jurang antara si super kaya dan si fakir miskin bisa dilihat di dalam daftar nama jutawan Indonesia. Apa anda sadar bahwa kemiskinan itu artinya adalah ketidakadilan sosial yang merajalela.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jangan kaget jika di akar rumput terpercik api pemikiran radikal, disebabkan oleh kemelaratan rakyat pinggiran secara struktural, maka sel-sel otak manusia lapar jadi sangar. Siapa yang bertanggung jawab atas kegagalan memerangi kemiskinan? Rakyat tidak menunggu perintah dari langit untuk melawan kelaparan dirinya dan keluarganya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Seperti contoh kasus “krakers” menduduki rumah atau gedung kosong di kota Amsterdam. Kasus ini muncul di kalangan muda yang kecewa terhadap penguasa yang tak sanggup menangani masalah kelangkaan rumah murah. Gerakan kaum termajinalkan ini digelari nama “grup otonom”.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Banyak aktipis dari kalangan muda sayap kiri di Eropa berasal dari “grup otonom”, di sanalah mereka belajar politik dan mempraktekannya dalam kehidupan “ masyarakat krakers”. Susah juga untuk mencari sinonim kata” krakers” di dalam bahasa kita, mungkin bisa dibilang sejenis “grilya kota” yang anti penindasan, kerjanya antara lain menduduki rumah atau gedung kosong yang telah bertahun-tahun tak berpenghuni (akibat spekulasi bisnis). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Semboyannya “krakers” sederhana saja: kosong musti di isi. Karena faktanya banyak gelandangan berkeliaran di jalanan. Inilah contoh yang terjadi di Amsterdam, bahwa gerakan “grup otonom” didukung juga oleh partai berhaluan kiri dan LSM progresip.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Salah satu partai berhaluan kiri Belanda namanya Socialistische Partij (SP), dipimpin oleh Jan Marijnissen (lahir di kota Oss, 8 Oktober 1952). SP membantu rakyat dengan pratik kerja nyata. Sehingga mendapat simpati berat dari rakyat, bisa dibuktikan pada tahun 1994 SP punya 2 korsi di dalam Tweede Kamer (Dewan Perwakilan Rakyat Belanda), tahun 2008 ini SP punya 25 korsi! Jumlah dari korsi yang ada di Tweede Kamer 150. berarti 1 dari 6 orang Belanda mewakilkan suaranya pada SP.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sejak tahun 1994 SP setia sebagai oposisi di parlemen yang praktiknya langsung memihak pada kepentingan rakyat banyak, dalam debat politik di gedung Tweede Kamer SP selalu maju ke depan mengkritisi jalanannya pemerintahan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Yang patut diamati di SP adanya solidaritas buat kepentingan partai, gaji dari anggauta SP yang jadi wakil rakyat itu datangnya dari partai. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Mekanisme begini, si wakil rakyat mendapat gaji resmi dari pemerintah, lalu gajinya disetorkan kepada partai, kemudian partai menggaji mereka (setelah dipotong untuk kas partai). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pernah terjadi kasus pembangkangan seorang anggauta SP yang menolak menyetorkan gaji resminya kepada partai, dan akibatnya anggauta partai itu dipecat, karena perjuangan politik untuk rakyat perlu dana, maka dituntut secara disiplin: kepentingan partai di atas segala-galanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jadi musti ada kekuatan dari bawah yang progresip dan memihak pada rakyat miskin. Tanpa adanya niat jujur untuk membela kepentingan orang yang lemah, maka sia-sialah bergaya sebagai wakil rakyat yang aslinya hanya mementingkan kepentingan pribadi dan memanipulasi kepercayaan para pemilihnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Heri Latief</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><a href="mailto:herilatief@yahoo.com">herilatief@yahoo.com</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Amsterdam, 26 Maret 2008</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akarrumputliar.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akarrumputliar.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarrumputliar.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarrumputliar.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarrumputliar.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarrumputliar.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarrumputliar.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarrumputliar.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarrumputliar.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarrumputliar.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarrumputliar.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarrumputliar.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarrumputliar.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarrumputliar.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarrumputliar.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarrumputliar.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=10&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/10/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/adf33e665206acf968550ed92eebad77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herilatief</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/9/</link>
		<comments>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/9/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 21:11:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herilatief</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarrumputliar.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Ayat-ayat cinta dan politik lokal gaya Belanda Histeria massa akibat dari nonton film AAC alias Ayat-Ayat Cinta? Saya belum lihat filmnya, tapi mungkin film ini seperti kombinasi dari film yang berjudul “Ratapan Anak Tiri” dan “Cintaku di Kampus Biru”. Ada hujan air mata dan kebanggan jadi pahlawan cinta. Saya baca opini orang yang pernah nonton [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=9&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong><span>Ayat-ayat cinta dan politik lokal gaya Belanda</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Histeria massa akibat dari nonton film AAC alias Ayat-Ayat Cinta? Saya belum lihat filmnya, tapi mungkin film ini seperti kombinasi dari film yang berjudul “Ratapan Anak Tiri” dan “Cintaku di Kampus Biru”. <span> </span>Ada hujan air mata dan kebanggan jadi pahlawan cinta.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya baca opini orang yang pernah nonton film tersebut di blognya Ifanov dan juga wawancara dari Ayu Utami di Detik.com mengenai soal film AAC.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Beritanya bisa anda baca di:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://revolusitaikucing.blogspot.com/"><span>http://revolusitaikucing.blogspot.com/</span></a><span><br />
</span><a href="http://groups.yahoo.com/group/sastra-pembebasan/message/62660"><span>http://groups.yahoo.com/group/sastra-pembebasan/message/62660</span></a></p>
<p>Saya juga belum pernah baca bukunya. Tapi saya baca beritanya di internet, bahwa AAC itu memang punya pengaruh di kalangan para pemuja novel dakwah dalam konteks interes soal berpoligami cara Indonesia.</p>
<p>kawan saya Sabai nan Aluih bilang bahwa &#8220;histeria massa&#8221; ini terjadi akibat munculnya sejenis permen manis untuk melawan depresi berkepanjangan yang terjadi di Indonesia pada saat ini.</p>
<p>Terus terang saja, dunia film kita masih kalah jauh dengan film produksi Bollywood, apalagi dibandingkan dengan film Hollywood. Kita masih suka main-main di daerah korupsi dan masih doyan digoblokin oleh kepentingan pemodal memoles keadaan supaya modalnya aman.</p>
<p>Saya akui bahwa bangsa kita masih dalam taraf belajar, masih merangkak dengan susah payah menuju sistim demokrasi sejati, jadi tak heranlah jika masyarakatnya “Lalijiwo”, lalu mencari permen manis yang murah meriah untuk menahan rasa lapar yang sebenarnya menjadi persoalan inti.</p>
<p>Lapar karena kurang makan, lapar akan keadilan, lapar akan hiburan. Kelaparan di indonesia adalah masalah yg akut, ini semua akibat dari persoalan “tak mau mempelajari sejarah bangsanya secara jujur dan terbuka”.</p>
<p>Permen itu manis karena gulanya sintetis. Sejarah kita banyak yang ironis. Suatu kenyataan pahit harus diperbaiki dengan niat dari dalam hati nurani. Bukan dengan jajnji-janji dan jampi-jampi politik. Apakah kemerdekaan bangsa kita itu hanya semboyan palsu?</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sudah sering kita melihat intrik licik untuk membelokkan perhatian dari suatu situasi yang lagi kheos, ke arah umbul-umbul asmara berwarna cinta, sebagai obat pelipur lara, maka sastra dakwah menjadi alasan yang dicari-cari dalam menjawab pertanyaan soal kemiskinan batin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Lalu di Indonesia yang lebih dari separuh penduduknya miskin itu perlu juga “massa terapi” untuk menghapus luka sejarahnya. Apa sebuah novel dakwah yang dijadikan film hiburan itu bisa merobah kerangka cara berfikir bangsa Indonesia?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bukankah ini hanya suatu bukti, bahwa klas menengah di perkotaan mendukung mimpinya Reformasi Cinta di dalam lingkaran pemikiran Islami. Biar pun kampanye cintakasih itu dipoles sedemikian rupa, tapi kisah cinta berurai air mata tak bisa menghapuskan rasa lapar yang sesungguhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Setelah Ayat-ayat-cinta apa lagi yang dibutuhkan oleh bangsa yang sedang terluka? Bukankah persoalan kemiskinan akut yang dibungkus kertas kado itu hanya dijadikan alasan untuk mengemis hutang pada negara donor? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Berapa ratus tahun lagi bangsa kita dibilang bangsa yang terbelit hutang piutang sejarah? Sedangkan semangat dunia kini sibuk memperbaiki kehidupan berdemokrasi, di Indonesia demokrasinya masih jalan di tempat, reformasinya hanya merubah nama presidennya dari jendral Soeharto ke jendral lainnya, sandiwara politik yang komplit dengan partai lamanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Mungkin pilihan elit politik Indonesia berdasarkan wangsit dan tata cara feodalisme. Beda dengan situasi di Eropa, misalnya di Belanda sekarang ini lagi muncul sebuah partai baru bernama “Trots op Nederland” (TON) diresmikan di Amsterdam, TON yang artinya kira-kira “Bangga Karena Belanda”, dipimpin oleh seorang bekas anggauta partai VVD (liberal) bernama Rita Verdonk, anggauta Tweede Kamer yang konon kabarnya ada turunan darah Indonya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Rita Verdonk dulunya pengikut dari golongan SosDem (Sosial Demokrat) dan pernah dijuluki “Rita Merah” di jaman semasih kuliah, sekarang menjelma jadi pejuang untuk kebebasan mengeluarkan pendapat tanpa sekat, versi pemikiran dari ekstrim liberal. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Menurut Rita, akibat dibatasinya kebebasan mengeluarkan pendapat, kultur politik Belanda mengalami situasi berbahaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>TON mengeluarkan pernyataan keras terhadap situasi Belanda pada saat ini, bahwa untuk memberantas krimalitas perlu memakai cara tangan besi: para penjahat muda harus dimasukkan ke dalam suatu model “kamp konsentrasi”, demi tujuan untuk mencuci otak kriminilnya si manusia sesat hukum, lalu dibikin sadar akan tugasnya menjaga kejayaan negeri Belanda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Rita juga menyerukan, 2/3 dari nilai uang bantuan ke negara-negara berkembang dipindahkan buat urusan penting di dalam negeri, misalnya uang tersebut dipakai untuk menambah kas pendidikan dan kesehatan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sepertinya di Belanda sekarang terjadi suatu Reformasi terhadap pemikiran lama yang dicoba dikoreksi oleh bermacam-macam ide pemikiran “baru”, baik itu dari ultra kiri atau pun dari sudut yang paling sebelah kanan, semuanya mendapat tempat untuk memperdebatkan pemikirannya, demi kemajuan bangsa Belanda, begitu katanya, walau pun semuanya adalah retorik belaka, karena yang pertama musti dibahas adalah: “siapa itu yang disebut bangsa Belanda pada saat ini”.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sejarah sudah mengatakan, bahwa Eropa sejak perang dunia kedua mengalami masa pertumbuhan yang dibangun juga oleh kaum emigran, yang mulanya dibutuhkan buat urusan pekerjaan yang tak disukai oleh penduduk lokal, misalnya jadi tukang sampah, atau jadi pemetik tomat di rumah kaca raksasa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kaum pendatang ini telah beranak-pinak selama puluhan tahun, mereka juga membawa kebiasaan hidupnya, mulai dari bumbu masaknya sampai dengan agamanya, komplit dengan segala tradisi padang pasirnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Setelah berpuluh tahun bermukim di negeri orang, para pendatang dijadikan kambing hitam atas kegagalan elit politik Belanda mengatasi situasi ekonomi, munculnya klas “voedselbank” sebagai contoh yang paling ekstrim. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kemiskinan membuahkan persoalan iri hati. Generasi kedua dari kaum imigran banyak yang mempunyai toko roti, kedai kopi atau warung serbaguna, yang pada akhirnya menimbulkan kecemburuan sosial.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Persoalan kemiskinan dan jaminan kesehatan adalah masalah yang paling penting, tapi persoalan tersebut ditutupi oleh isu politik dunia intrik busuk yang mengkambinghitamkan kaum imigran sebagai pembawa bencana politik di Belanda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jadi jangan salah sangka, semua yang berbau “urusan kita buat kita” pasti ada unsur-unsur rasismenya, apa pun alasannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Heri Latief</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><a href="mailto:herilatief@yahoo.com">herilatief@yahoo.com</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Amsterdam, 4 April 2008</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akarrumputliar.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akarrumputliar.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarrumputliar.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarrumputliar.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarrumputliar.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarrumputliar.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarrumputliar.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarrumputliar.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarrumputliar.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarrumputliar.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarrumputliar.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarrumputliar.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarrumputliar.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarrumputliar.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarrumputliar.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarrumputliar.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=9&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/adf33e665206acf968550ed92eebad77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herilatief</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/8/</link>
		<comments>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/8/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 20:41:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herilatief</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarrumputliar.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Mahasiswa dan Gerakan Politik Praktis Akibat dari terbelahnya Eropa setelah perang dunia kedua, maka terjadilah masa pergolakan pemikiran di kalangan kaum muda, misalnya gerakan politik praktis mahasiswa dan seniman pada zaman “generasi bunga dan cinta di Eropa”. Tembok Berlin dan Checkpoint Charlie telah jadi saksi, sejarah manusia tak bisa dibatasi oleh tembok beton dan moncong [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=8&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong>Mahasiswa dan Gerakan Politik Praktis</strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Akibat dari terbelahnya <span>Eropa setelah perang dunia kedua, maka terjadilah masa pergolakan pemikiran di kalangan kaum muda, misalnya gerakan politik praktis mahasiswa dan seniman pada zaman “generasi bunga dan cinta di Eropa”.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tembok Berlin dan Checkpoint Charlie telah jadi saksi, sejarah manusia tak bisa dibatasi oleh tembok beton dan moncong meriam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Eropa setelah 13 agustus 1961 menjadi beku kaku, pembangunan tembok beton sebagai simbol konflik blok Barat dan Timur pada saat itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Virus perang dingin membuat tatanan masyarakat Eropa jadi meriang tak keruan. Terutama kaum mudanya yang sudah muak dengan politik orang tuanya. Generasi yang lahir setelah perang dunia kedua muncul sebagai wakil dari ide pembaruan kaum progresif muda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Salah seorang pemimpin gerakan kaum muda progresif Eropa bernama Daniel Cohn-Bendit (Montauban, 4 april 1945), seorang publisis dan politisi ulung, yang terlibat langsung pada saat demo protes besar-besaran yang telah membakar kota Paris (1968).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Demo besar-besaran di Paris tersebut adalah akibat dari tertembaknya seorang aktifis mahasiswa bernama Benno Ohnesorg di Berlin Barat sewaktu demonstrasi anti kedatangan Syah Iran (2 juni 1967). Reaksi dari kaum muda adalah membentuk grup ekstrem “Revolutionärer Kampf”.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kameradnya Bendit segenerasi adalah Joschka Fischer, beken namanya di Jerman, lahir di Gerabronn, 12 april 1948, yang juga terkenal sebagai bekas mentri luar negeri Jerman dari partai Die Grünen. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kedua aktifis revolusioner Eropa ini adalah lambang dari kegelisahan anak muda Eropa setelah bebas dari ancaman fasismenya Nazi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Gerakan mahasiswa di Eropa di tahun 60an bergerak ke arah kiri dengan aksi-aksi demo anti perang Vietnam, semua yang berbau Yaankee adalah dosa yang tak termaafkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pada saat itu kekuatan militer di dunia terbagi 2, Nato dan Pakta Warsawa. Tembok Berlin adalah suatu bukti terbelahnya pemikiran manusia di dunia ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dinginnya perang dingin membuat perasaan orang jadi membeku. Karena mereka tahu, puluhan ribu peluru kendali antar benua berkepala nuklir saling mengancam dalam situasi ngeri akibat sengitnya konflik ideologi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tembok Berlin seakan-akan jadi saksi pembatas emosi sebuah bangsa yang sedang mengalami masa merenung karena terluka akibat kalah perang, tembok pembatas ideologi itu dibangun atas nama persaingan ideologi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di tahun 1982, sewaktu saya baru datang di kota Hamburg partai Die Grünen mulai muncul sebagai wakil rakyat di parlemen lokal pemerintahan kota Hamburg, mulailah era kaum hippies yang berambut gondrong orkes, blue jeans, dan anti dasi itu dipercaya oleh rakyat untuk memperjuangkan tuntutan orang bawahan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Gerakan mahasiswa di Jerman telah sukses merambah masuk secara nasional ke parlemen (1983), maka terjadilah perubahan iklim politik di Jerman, suasananya jadi lebih berwarna akibat masuknya pemikiran kaum progresip muda di dalam gelanggang politik. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sedangkan di Indonesia pada waktu itu sudah ada gerakan politik elite yang anti rezim Soeharto, dikenal dengan nama Petisi 50, tentunya mesti diingat bahwa pada sat itu ada praktik politik kekerasan negara yang dijuluki dengan nama Petrus (pembunuhan misterius) dan juga peristiwa berdarah Tanjung Periuk (1984).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di kalangan mahasiswa Indonesia di Jerman pada saat itu sangat haus akan informasi tentang tanah airnya, informasi keadaan politik Indonesia didapat dari berbagai macam sumber, di antaranya dari salah seorang wartawan Radio Nederland cum aktifis (Tossi). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ia mengirimkan berita-berita dari Indonesia ke Berlin Barat dalam bentuk koran, majalah, atau pun berbagai pernyataan politik dari para oposan di Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tahun 80an di abad yang lalu belum ada Internet, lalu lintas berita cetakan memakai jasa pos, dan biaya perangko itu mahal. Sehingga informasi dari Belanda ke Berlin Barat hanya datang ke satu alamat, lalu siapa yang memerlukan informasi silakan memfotokopinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Karena gerakan mahasiswa pro demokrasi Indonesia di Jerman semakin menyebar, maka kebutuhan informasi di kalangan mahasiswa yang kritis pun meningkat, karena ada kesempatan untuk belajar politik secara bebas dari versinya para pembangkang yang berkumpul di beberapa grup.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Misalnya PPI CaBe (Persatuan Pelajar Indonesia Cabang Berlin), IPMI (Ikatan Pemuda Mahasiswa Indonesia), PI Berlin Barat (Perhimpunan Indonesia).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Masing-masing grup oposisi tersebut punya penerbitan, misalnya PPI CaBe terbitannya bernama “Gotongroyong”, PI terkenal dengan terbitan analisa politiknya dalam “Berita Tanah Air”.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Seorang penulis tersohor dari kalangan oposisi di luar negeri di zaman itu namanya Pipit Rochijat, ia adalah menantu dari Doktor Mohammad Isa yang bekas Atase Kebudayaan di KBRI Praha pada zaman Nasakom. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Mahasiswa Indonesia yang kritis pun dituduh PKI. Tapi gertakan penguasa tak mempan. Gerakan mahasiswa di Berlin Barat makin nekat. Paspor Pipit lalu dicabut oleh Rezim Soeharto.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Seperti analisa politik dari I Gusti Nyoman Aryana (Komang) yang sekjen PI Berlin Barat di tahun 1986 , “rezim Soeharto suatu saat akan tumbang juga, tak ada diktator abadi di dunia ini, lalu setelah Soeharto jatuh mau apa? <span> </span>What next?” Kata Komang sembari memberikan contoh kasus Marcos dan masa depan Pilipina.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>12 tahun kemudian, 1998, pemerintahan Soeharto jatuh dari singgasananya, tapi apa yang terjadi sekarang? Pengulangan dari keadaan rakyat miskin tertindas tanpa ada perubahan? Komang sudah meramalkan bahwa perubahan total mesti terjadi, tanpa itu hanya pengulangan cerita lama.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>10 tahun Reformasi hanya menghasilkan apa yang kita lihat sekarang, Indonesia sakit yang rakyatnya setengah kelaparan, ditambah pula mahalnya ongkos pendidikan, dan makin suburnya budaya penyalahgunaan kekuasaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Gerakan mahasiswa Indonesia di luar negeri pun sekarang sudah berubah total, mahasiswa jadi malas berpolitik, mungkin takut karena ortunya juga lagi ikut menikmati kliknya kekuasaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Semboyan mahasiswa sekarang katanya: “belajar dan pesta”, semua sifat anak muda yang suka protes itu dipoles jadi karakter anak manis. Lagian, siapa yang bisa membuktikan bahwa ongkos kuliah di luar negeri yang mahal itu bukan dari hasil dari ngompas alias korupsi?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Perbedaan dasar dari gerakan mahasiswa di ahun 60an di Eropa dan Di indonesia adalah: di Eropa para eks aktifis mahasiswa zaman anti perang Vietnam itu sampai saat ini masih mengeritik masalah gawat di dunia ke 3, yaitu perang dan kelaparan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sedangkan di Indonesia para eksponen 66 hanya memikirkan merebut korsi kekuasaan yang sama sekali tak memihak pada penderitaan rakyat miskin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sampai saat ini di Eropa berkembang terus ide pengawasan dari rakyat terhadap jalannya pemerintahan, misalnya di Belanda ada “buurthuis”, terjemahan bebasnya: pusat kegiatan rakyat. Tempat segala macam aktifitas sosial, politik dan budaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Hal ini disebabkan oleh gigihnya usaha kaum termajinalkan di Eropa untuk memperjuangkan perubahan nasibnya, sedangkan di Indonesia terjadi kebalikannya, sifat militansi yang muda yang progresip makin lama apinya pun meredup.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Korlap gerakan mahasiswa 98 itu sekarang malahan jadi rebutan partai-partai politik, idealisme diobral karena kebutuhan hidup? Apakah ini karena akibat dari politik Indonesia yang masih taraf belajar merangkak menuju kehidupan berdemokrasi?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tanpa adanya usaha rakyat mandiri untuk memperjuangkan perubahan sosial secara konkrit, akhirnya ide Reformasi itu hanya menuai persoalan: kembalinya para pemain lama, sang penyebab malapetaka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Heri Latief</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><a href="mailto:herilatief@yahoo.com">herilatief@yahoo.com</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Amsterdam, 11 April 2008</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akarrumputliar.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akarrumputliar.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarrumputliar.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarrumputliar.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarrumputliar.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarrumputliar.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarrumputliar.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarrumputliar.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarrumputliar.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarrumputliar.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarrumputliar.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarrumputliar.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarrumputliar.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarrumputliar.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarrumputliar.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarrumputliar.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=8&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/adf33e665206acf968550ed92eebad77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herilatief</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/7/</link>
		<comments>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/7/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 20:36:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herilatief</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarrumputliar.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Politik Sepak Bola Politik itu seperti “game” kata Henry Kissinger, apakah sport itu juga sejenis permainan yang bisa dipolitikkan? Menonton sepak bola di akhir minggu sudah menjadi tradisi bagi orang Barat, apalagi di zaman sekarang banyak kanal televisi spesial buat acara sport, otomatis semakin maraklah dunia para pecinta sepak bola, dan tentu saja onderdil dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=7&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong><span>Politik Sepak Bola</span></strong><strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Politik itu seperti “game” kata Henry Kissinger, apakah sport itu juga sejenis permainan yang bisa dipolitikkan? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Menonton sepak bola di akhir minggu sudah menjadi tradisi bagi orang Barat, apalagi di zaman sekarang banyak kanal televisi spesial buat acara sport, otomatis semakin maraklah dunia para pecinta sepak bola, dan tentu saja onderdil dari acara nonton bola adalah makanan kecil (chips), dan bir pasti ada untuk meramaikan suasana.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pernah ada penelitian yang menyatakan, ada indikasi kuat di saat acara pertandingan sepak bola World Cup ternyata ada hubungannya dengan kenaikan angka kelahiran di Belanda. Hal tersebut terdeteksi dalam bentuk masa kehamilan setelah acara pertandingan bola internasional tersebut selesai.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Mungkin anda juga setuju bahwa prestasi sepak bola di Belanda terkenal namanya melalui Johan Crujff, Ajax dan Rinus Michels. Ketiga nama tersebut punya sumbangan besar dalam dunia persepakbolaan Belanda. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Johan Crujff lahir di Amsterdam, 25 april 1947, terkenal sebagai pahlawan sepak bola Belanda, yang juga pernah jadi pelatih sukses di klub Barcelona (1988-1996). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Menir Cruijff memang aslinya jagoan menggocek bola yang pada akhirnya menghasilkan gol kemenangan. Kawan dan lawan mengakuinya sebagai salah satu seniman bola di dalam dunia persepakbolaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ajax adalah nama klub sepak bola terkenal dari Amsterdam, didirikan 18 maret 1900, punya stadion megah Amsterdam Arena yang atapnya bisa ditutup dan dibuka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Musuh bebuyutannya Ajax yang paling terkenal adalah Feyenoord, didirikan 19 juli 1908, bermarkas di stadion Kuip (Rotterdam), yang suka nonton kompetisi Eropa pasti kenal nama klub sepak bola kebanggan kota Rotterdam ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Feyenoord diasosiasikan dengan sebutan “het is een club van arbeiders”, klub sepak bolanya kaum buruh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ajax fans yang punya grup inti fanatik bernama F-Side itu pernah tawuran habis-habisan melawan SCF Hooligans sebutan buat fans Feyenoord. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kejadiannya di lapangan kosong dekat kota Beverwijk (23/03/1997), yang memakan korban jiwa dari F-Side karena kepalanya kena pentung martil, pertempuran dua musuh bebuyutan itu ada film dokumentasinya di Youtube. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Para fans sepak bola Belanda memang suka ganas gila-gilaan dalam hal melakoni perang antar klub sepak bola, padahal mereka tahu semuanya, jika terjadi pertandingan sepak bola antara tim Belanda dengan Jerman misalnya, maka geng hooligans Belanda itu tiba-tiba bersatu, bersama-sama nonton pertandingan sepak bola via televisi layar lebar di kafe-kafe di sekitar Leidseplein, bersorak sorai mendukung tim Belanda tanpa membedakan pemain yang berasal dari bukan klub pujaannya. Bersatu sesaat demi nama persatuan sepak bola Belanda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sepak bola juga sebagai salah satu faktor keuntungan dalam ekonomi Belanda, contohnya Ajax yang terdaftar di pasar bursa efek. Karena sepak bola identik dengan fans, maka angka penjualan segala atribut yang berhubungan dengan klub pujaan makin hari makin meningkat, belum lagi uang hasil dari penyiaran pertandingan, dan selalu muncul fans baru sebagai langganan potensial untuk membeli segala macam produk promosi dari klub gacoannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sepak bola sebagai hiburan rakyat yang murah meriah, olah raga sebagai alat pemersatu dan sekaligus juga sebagai alat untuk bersaing dalam bisnis menjual hak acara pertandingan sepak bola di media televisi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Apa ada yang ingat nama pelatih tim Belanda Rinus Michels alias “Sang Jendral” (9 februari 1928 – 3 maret 2005), yang namanya jadi legenda dalam dunia persepakbolaan dunia, di tahun 1999 menir Michels dipilih oleh FIFA sebagai pelatih terbaik di abad ke 20.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Michels adalah pelatih sepak bola tersohor dengan ilmu menyerangnya, yang dibilang “Total Football”. Ia pernah menyatakan bahwa pertandingan sepak bola adalah sejenis “perang”, para gladiator di lapangan bertugas hanya untuk menang dan menang, jargonnya mirip sejenis strategi militer dicampur lihainya kaki menggocek bola.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dalam dunia politik kita bisa lihat juga ada istilah politik sepak bola, menggocek bola dalam kotak pinalti, mengharapkan ada yang mentekelnya, lalu terjatuh, dan lawannya dapat kartu merah dari wasit, tendangan pinalti pun sebagai kadonya, memanipulasi permainan politik dengan memakai taktik bola liar, seperti yang dipamerkan dalam dunia politik Belanda pada saat ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span>Kemarin saya lihat siaran langsung di televisi Belanda, perdebatan di parlemen mengenai kasus Sudan (Tragedi Darfur), dengan para pengeritiknya: Rita Verdonk dari partai Trots Op Nederland bersama PVV (partainya Geert Wilders) dan VVD (Liberal) menginginkan agar bantuan kemanusiaan dari pemerintah Belanda ke Sudan di stop, dengan alasan karena mentri luar negeri Belanda Eimert van Middelkoop tidak diberi visum untuk mengunjungi Darfur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span>Dengan gaya taktik politik main bolanya Belanda, maka dilemparkanlah ke gelanggang sebuah bola liar yang diberi judul “stop bantuan demi kemanusiaan”, jargon yang rada aneh kedengarannya, tapi memang sekarang ini ada semangat besar dari politisi kanan untuk mengurangi bantuan dana terhadap negara dunia ketiga, dengan alasan parahnya situasi korupsi, yang pada akhirnya menindas rakyatnya dengan memakai dana bantuan dari Barat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span>Usul ke 3 partai kanan tersebut dibantah oleh menteri kerjasama pembangunan Belanda Bert Koenders (PVDA), yang menyatakan bahwa ada 1,2 juta rakyat Sudan menderita jadi pengungsi akibat perang, dan dana bantuan tersebut diberikan kepada LSM yang mengurusi para pengungsi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span>Sinyal dari politik Belanda hari ini makin jelas: urusan penting dalam negeri mesti segera dibenahi, karena masalah pendidikan dan kesehatan telah menjadi momok dalam persoalan politik selama hampir 25 tahun lamanya, menuai kekecewaan rakyat Belanda terhadap gaya plintat-plintut politik Den Haag. Rakyat perlu kejelasan tentang masalah krisis politik, bukan cuma disuguhi pertunjukan politik demi usaha memojokkan kehidupan kaum pendatang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span>Resesi ekonomi Amerika akan terasa beberapa bulan lagi kata seorang pejabat bank sentral Belanda, tapi kepercayaan konsumen kini telah menurun tajam, semua serba mahal, dan ironisnya pengamat ekonomi menyerukan “pembekuan gaji”, rakyat diminta supaya bisa super sabar menghadapi situasi naiknya harga minyak, yang rupanya mulai menyerang cara hidup konsumerisme masyarakat Belanda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span>Semboyan “stop bantuan demi kemanusiaan” nampaknya mulai dipercaya sebagai jampi-jampi penolak bala. Jika saat ini ada pemilu di Belanda, partai barunya Rita Verdonk akan mendapatkan 20 kursi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span><span> </span>“Akan tetapi iklim politik Belanda itu belum bisa menerima adanya sejenis Partai Islam Demokrat”, demikian kata politikus Mohamed Rabbae, bekas pelarian politik, yang lahir di Berrechid, Marokko, 8 maret 1941, berasal dari partai Groenlinks, yang berbicara atas nama fakta, bahwa kebutuhan politik kaum muslimin di Belanda belum mendapat tempat yang layak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span>Bola panas soal partai islam demokrat dari Rabbae dilempar ke gelanggang politik Belanda disertai juga komentarnya:“Geert Wilders is een politieke hooligan”. Rabbae bertanya kembali soal kepercayaan terhadap ide rechtsstaat alias negara hukum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span>Di abad ke 21 ini, keributan politik di Eropa, khususnya Belanda sepertinya mau dibawa kembali ke zaman perang salib, di atas panggung teater intrik politik negara kaya, para politisi bersaing atas nama kesucian moral demokrasi Barat, melawan ketidakadilan akibat perbedaan warna kulit yang juga berbeda agama?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span>Bola liar politik Belanda lagi ditendang kesana-kesini, memanaskan suhu dingin di musim semi, dan jangan lupa tiap akhir pekan ada acara pertandingan sepak bola di televisi, bir pun dijadikan teman dalam rangka menikmati olah raga kerakyatan tanpa melihat perbedaan warna kulit atau pun agama. Proost!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span>Heri Latief</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span><a href="mailto:herilatief@yahoo.com">herilatief@yahoo.com</a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span>Amsterdam, 9 April 2008 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akarrumputliar.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akarrumputliar.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarrumputliar.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarrumputliar.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarrumputliar.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarrumputliar.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarrumputliar.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarrumputliar.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarrumputliar.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarrumputliar.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarrumputliar.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarrumputliar.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarrumputliar.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarrumputliar.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarrumputliar.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarrumputliar.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=7&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/adf33e665206acf968550ed92eebad77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herilatief</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/6/</link>
		<comments>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/6/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 18:16:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herilatief</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarrumputliar.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Jadi Gembel di Negara Kaya Melakoni hidup sebagai perantauan haruslah punya hobby yang jelas dan terang, artinya bukan kegemaran yang dirahasiakan, misalnya punya hobby gelap jadi pengikut paham sado machochisme. Hobby yang gampang dipelajari adalah menulis dan berinteraksi di dalam dunia internet, disebut juga dunia maya, yang menyediakan ruangan untuk “bermain”, seperti sebuah gelanggang persilatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=6&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span><strong>Jadi Gembel di Negara Kaya</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Melakoni hidup sebagai perantauan haruslah punya hobby yang jelas dan terang, artinya bukan kegemaran yang dirahasiakan, misalnya punya hobby gelap jadi pengikut paham sado machochisme. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Hobby yang gampang dipelajari adalah menulis dan berinteraksi di dalam dunia internet, disebut juga dunia maya, yang menyediakan ruangan untuk “bermain”, seperti sebuah gelanggang persilatan kata, di sana kita bisa berlatih memainkan jurus-jurus menyusun kata, berpuisi di layar kaca. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kita bisa bergabung dalam suatu milisgrup secara gratis, anggautanya tinggal di seluruh pelosok dunia, maka terbentuk di milis suasana dalam semangat jiwa internasionalisme bergaya postmo, moderator bertugas sebagai pengawas jalannya lalu lintas informasi. Di milis kita berdiskusi dengan para miliser yang tinggalnya bisa saja jauh di ujung dunia sana. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Itu salah satu bukti bahwa dunia internet itu sakti dan telah berhasil menghapus batas-batas suatu negeri, menyediakan ruangan buat menuliskan segala macam cerita yang didapat dari pengalaman hidup kita. Segala macam uneg-uneg manusia mendapat tempat curhat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pengalaman hidup saya itu dikirimkan juga kepada handai dan taulan, mereka menganjurkan agar cerita tentang “gembel yang dimanjakan oleh negara” sebaiknya ditulis, sebab realitas praktik sosial ini mungkin bisa dibilang kisah yang aneh jika dilihat dari sudut situasi ekonomi tiarap di Indonesia pada saat ini. Bayangkan saja, misalnya kasus seorang gembel busuk yang pemabuk, pecandu crack klas berat, miskin dan suka nyolong itu diurus oleh sistim yang rapih jali dan manusiawi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Mungkin para pembaca pernah mendengar kisah nyata dari sebuah gereja di Rotterdam yang bernama “Pauluskerk”. Di ruang bawah tanah gereja”Pauluskerk” selama bertahun-tahun pernah dijadikan tempat “meeting point” para pecandu narkoba klas berat, dikelola oleh domine H. Visser, pendeta progresip yang punya alasan sosial luar biasa: mengontrol pemakaian narkoba dari praktik penjualan “barang busuk” dari para dealer narkoba. Gawat gak tuh? Mana mungkin ide domine H. Visser bisa diterima di negara yang anti hak asasi manusia&#8230;., pecandu berat di Pauluskerk nyatanya diurus oleh kasih sayang manusia yang beragama?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Para gelandangan, pecandu, pemabuk, punya asrama spesial, ada LSM yang mengurusi sang gembel dalam soal makan, minum, wc, kamar mandi, tempat tidur, dan jangan lupa juga bahwa yang paling penting adalah usaha dalam “mengelola” cara hidup kaum gelandangan agar supaya hidup mereka tidak semakin berantakan. Di Amsterdam para gembel diurus oleh bemacam LSM di antaranya bisa dibaca di<span> </span><a href="http://www.hvoquerido.nl/">http://www.hvoquerido.nl/</a>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Maklumlah gelandangan Eropa rata-rata mengidap sakit jiwa karena batinnya merana, istilahnya “vervremding”, keterasingan terhadap lingkungan, hidupnya sengsara tak punya tempat untuk berteduh akibat bernasib sial dilanda badai kehidupan, misalnya akibat kasus perceraian. Muncul juga ekses hasil perceraian, anak usia puberial yang ngabur dari rumah. Jadi anak jalanan, bikin resah. Semua harus diurus. Semua butuh perhatian. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Negara dituntut tanggungjawabnya dalam kasus memerangi kemiskinan, ide Welvaartsstaat<span> </span>(Welfare State) di awalnya saja bersemangat kuat, setelah dilanda gempa ekonomi dunia di tahun 90an abad yang lalu, kemudian disusul kejadian 11/9 maka bergeserlah situasi dari “negara yang membangun kesejahteraan rakyat” ke arah negara yang lagi keasyikan kampanye anti terorisme. Saat ini isu yang paling hot adalah soal akan munculnya film anti Islam berjudul “Fitna” produksi dari politikus tersohor Geert Wilders, anggauta Tweede Kamer yang berasal dari partai garis kanan disingkat PVV ini memang ngotot banget anti Islamnya. Terjemahan bebasnya PVV = partai untuk kebebasan, partai yang ingin negeri Belanda bebas dari Islam, PVV asalnya dari pecahan partai VVD yang berhaluan Liberal.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Proyek sosial di zaman kabinet Kok dari Partai Buruh berjudul “Melkertbanen” (1994), sekarang dianggap sudah kuno, suatu ide yang berusaha melawan pengangguran bergaya sosdem itu lambat laun mulai dilupakan, subsidi buat menyediakan tempat kerja diciutkan, karena persoalan memerangi kemiskinan rakyat telah ditutupi kabut tebal berasal dari asap mesiu mesin perang, sehingga menimbulkan pertanyaan standard rakyat: “ngapain kita nongkrong di tempat perang? Buang-buang nyawa dan uang”.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Karena usaha memerangi kemiskinan di dalam kandangnya sendiri saja sudah mulai kelihatan ngos-ngosan, ingat saja kasus Voedselbank (bantuan sembako). Buat apa nyari-nyari penyakit perang? Begitu kata sebagian besar rakyat Belanda. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di sinilah terlihat jelas bahwa kekuatan modal memang sangat berkuasa, kepentingan perang aslinya untuk mencari sumber enerji (minyak bumi) lewat segala macam cara dan taktik itu tidak diperdebatkan panjang lebar lagi, yang ada cuma kepentingan negara maju untuk menjamin (misalnya) dana pensiun rakyatnya seaman mungkin, bilang sajalah ini namanya teori kesejahteraan KDW (karepe dewe-dewe), demi tujuan, menghalalkan segala cara.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jadi gembel di negeri kaya memang terasa aneh, karena bukti angka GNP tinggi di negara industri kaya, nyatanya tidak bisa menjamin situasi bebas dari orang miskin, perbedaan klas terlihat jelas antara mereka yang super kaya, yang memiliki harta jutaan euro tinggal di daerah villa mewah super mahal, dan ada yang tinggal di rumah atau gedung yang di “kraken” (ditempati tanpa ijin). Konflik yang diakibatkan oleh karena sulitnya mencari perumahan murah dan persaingan sengit di lapangan pekerjaan itu menghasilkan sejenis “grilya kota”, yang namanya terkenal sebagai grup otonom, pekerja sukarela untuk membantu para kaum yang termajinalkan, contoh beritanya ada di http://nl.wikipedia.org/wiki/Kraken_(pand).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Para zwerver (gelandangan) ini adalah refleksi dari ketidakmampuan penguasa membasmi kemiskinan. Ada juga gelandangan yang berasal dari keluarga kaya, disebabkan karena tak bisa mengatur hidupnya secara wajar, ditambah kemudian jadi alkoholis lalu akhirnya menjelma jadi gelandangan profisional. Perkara alkoholisme memang sudah menjadi salah satu faktor yang serius dalam soal sebab-akibat dari situasi dakloze atau homeless, alkohol telah jadi persoalan klasik di negeri industri maju dalam proses globalisasi ekonomi saat ini. Di Barat alkohol sudah jadi “obat” untuk melawan stress.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Elit politik<span> </span>di Den Haag tahu jelas akibat bertambahnya negara anggauta EU maka sekarang banyak permintaan tenaga kerja ahli di segala bidang, sehingga menimbulkan gelombang perpindahan para pencari kerja dari negara-negara Eropa Timur ke negara EU yg kaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tapi pembangunan rumah rakyat yang murah kalah cepat dengan permintaan pasar, sehingga terjadi kekurangan rumah yang akut (Woningnood), yang akhirnya memberikan ide dari para krakers untuk membongkar konci pintu gedung-gedung dan rumah kosong yang tak berpenghuni lalu menempatinya secara ilegal. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Lagi pula ada permainan licik dari para makelar bengal yang memainkan situasi kejepit dalam spekulasi harga pasaran rumah atau gedung. Contohnya banyak gedung kosong sebagai modal yang bengong menunggu harga naik. Dilema ini akhirnya yang rugi negara juga, uang pajak dipakai untuk memerangi krakers, jadinya persoalan klasik dalam rumitnya mengelola soal perumahan rakyat. Di negara maju seperti Belanda sudah bukan rahasia lagi bahwa semakin tajam persaingan dalam mencari tempat tinggal yang layak tapi bisa terjangkau oleh kalangan klas bawah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kemiskinan harta mungkin bisa diperangi dengan kerja keras, dan di negara maju bukan sekedar perkara kemiskinan materi, tapi juga tentang perihal kesepian batin yang miskin. Mungkin itu adalah tanda bahwa materi tak bisa membeli kebahagiaan secara utuh. Kepalsuan kosmetik model moral-barat akhirnya memakan ke dalam perasaan, menghasilkan suatu klas gelandangan bergaya psiko bin schizo, dan ini adalah korban dari persaingan keras gaya hidup ironis di dalam dunia materialistis. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Penyakit orang di negara kaya: miskin ilmu kebatinan. Batin yang miskin bisa merubah orang jadi singit seperti layangan salah bikin talikamanya. Nyanyian para gelandangan di jantung Eropa mendengung seperti simponi kematian Mozart, agung sekaligus mengerikan. Itulah harga yang musti dibayar masyarakat Barat dalam sistem perbudakan modern di zaman anti terorisme menyihir inspirasi puisi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Heri Latief</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><a href="mailto:herilatief@yahoo.com">herilatief@yahoo.com</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Amsterdam, 16 Maret 2008</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akarrumputliar.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akarrumputliar.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarrumputliar.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarrumputliar.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarrumputliar.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarrumputliar.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarrumputliar.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarrumputliar.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarrumputliar.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarrumputliar.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarrumputliar.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarrumputliar.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarrumputliar.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarrumputliar.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarrumputliar.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarrumputliar.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=6&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/adf33e665206acf968550ed92eebad77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herilatief</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Salam dari Amsterdam</title>
		<link>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/salam-dari-amsterdam/</link>
		<comments>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/salam-dari-amsterdam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 18:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herilatief</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarrumputliar.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=5&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=5&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/salam-dari-amsterdam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/adf33e665206acf968550ed92eebad77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herilatief</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/hello-world/</link>
		<comments>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 17:35:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herilatief</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=1&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akarrumputliar.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akarrumputliar.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarrumputliar.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarrumputliar.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarrumputliar.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarrumputliar.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarrumputliar.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarrumputliar.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarrumputliar.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarrumputliar.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarrumputliar.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarrumputliar.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarrumputliar.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarrumputliar.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarrumputliar.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarrumputliar.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarrumputliar.wordpress.com&amp;blog=3599558&amp;post=1&amp;subd=akarrumputliar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarrumputliar.wordpress.com/2008/04/28/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/adf33e665206acf968550ed92eebad77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herilatief</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
